The Culture
1. Sapi Gerumbungan
Budaya dan Tradisi unik di kawasan Bali Utara ini memperlombakan sepasang sapi yang pada lehernya dipasangi sebuah genta besar yang dinamakan “Gerumbungan” kemudian sapi dihiasi berbagai aksesoris agar terlihat gagah dan indah, pada kedua leher kedua sapi itu saling dikaitkan dengan sebatang kayu melintang bernama “uga” kemudian di tengahnya sebuah kayu melintang sepanjang 3 meter untuk seorang sais atau joki mengendalikan sapi tersebut.
Yang dipilih adalah sapi jantan saja itupun yang berbadan kekar. Kriteria pemilihan pemenang dan penilaian bukan berdasarkan ada kecepatan, penilaian berdasarkan keserasian gerak seperti gerak kaki yang seragam, ekor sapi yang melengkung ke atas dan kepala sapi yang mendongak ke atas. Sebagai budaya warisan leluhur agar tetap lestari, maka sapi Gerumbungan digelar setiap HUT kab. Buleleng di Bulan Agustus. Atraksi wisata di pulau Bali bisa menjadi hiburan wisata menarik.
2. Ngamuk-amukan Api Danyuh Simbol Luapan Amarah

Tradisi yang dilaksanakan pada saat pengrupukan Tilem Kesanga atau sehari sebelum Catur Brata Penyepian, dilaksanakan secara turun temurun, dengan menggunkan danyuh (daun kelapa kering) yang dibakar, kemudian api tersebut diadu oleh dua orang secara bersamaan. Pengrupukan yang dilakukan dengan maksud untuk menyomia Buta Kala agar tidak mengganggu manusia pada saat melaksanakan Catur Brata Penyepian yang dilakukan sore hari setelah dilakukan upacara mecaru di tingkat rumah sehari sebelum upacara Nyepi dilaksanakan disesuaikan dengan adat setempat.
Pada umumnya Pengrupukan dilakukan dengan cara menyebar-nyebar nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan dengan membakar danyuh, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga menghasilkan suara ramai dan terkesan gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk menyomia Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar.
3. Tradisi Megoak-goakan
Sejarah awal berdirinya Buleleng tentu tidak lepas dengan Ki Barak Panji Sakti yang pernah memerintah Kerajaan Buleleng, tradisi unik megoak-goakan ini sendiri masih berlangsung dan bertahan sampai saat ini di desa Panji Buleleng, untuk menghormati jasa-jasa dari raja Ki Barak Panji yang terkenal sebagai pemimpin yang terkenal baik hati dan memiliki jiwa kepemimpinan tinggi. Permainan tradisional tersebut muncul, karena raja terinspirasi oleh seekor goak (gagak) yang sedang mengincar mangsanya, dan gagak tersebut membuat taktik agar bisa menangkap mangsanya. Hal tersebutlah membuat raja mempraktekkan cara gagak tersebut dengan mengajak prajuritnya melakukan sebuah permainan tradisional yang dinamakan megoak-goakan. Tradisi unik di pulau Bali ini bisa menjadi atraksi wisata dan tujuan tour di kawasan Bali Utara.
Comments
Post a Comment